Hukum & Kriminal
Senin, 09 Januari 2017 - 19:52:31 | bambang-jati / Sorot Kulonprogo

Sengketa Tanah, Keturunan Sri Sultan HB VII Tuntut Paku Alaman
Sengketa Tanah, Keturunan Sri Sultan HB VII Tuntut Paku AlamanSengketa Tanah, Keturunan Sri Sultan HB VII Tuntut Paku AlamanFoto salinan dokumen yang dimiliki oleh pihak ahli waris Mur Sudarinah.

Wates,(sorotkulonprogo.com)--Lahan calon proyek pembangunan bandara baru di Kecamatan Temon ternyata menimbulkan permasalaham baru. Selain permasalahan terkait pembebasan lahan dan pengosongan lahan, pihak Paku Alaman yang memiliki sebagian tanah di lahan calon pembangunan bandara serta Angkasa Pura I justru digugat oleh keturunan dari GKRB Hemas atau Mur Sudarinah yang merupakan putri dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Pihak Pakualaman dianggap mengklaim status kepemilikan tanah yang digunakan sebagai lahan calon pembangunan bandara sebagai milik Paku Alam atau Paku Alam Ground (PAG). Padahal menurut kuasa hukum dari keturunan Mur Sudarinah, Prihananto status kepemilikan tanah merupakan milik Mur Sudarinah yang sekarang diturunkan kepada 8 orang buyutnya sebagai ahli waris.

”Dulu tanah itu merupakan hadiah dari Hamengku Buwono VII kepada Mur Sudarinah karena berhasil menjadi istri seorang raja yakni Sri Susuhunan Pakubuwono X. Tanah tersebut seluas 1.200 hektare dan berada di lokasi pembangunan bandara baru di Kulon Progo,” tutur Prihananto, Senin (10/01/2017).

Adapun tanah tersebut berada di 5 desa di Kecamatan Temon yakni Jangkaran, Sindutan, Glagah, Kebonrejo serta Palihan yang kini merupakan lahan calon pembangunan bandara.

”Bukti yang bisa kami tunjukan adalah salinan surat notaris dari kantor notaris Hendrik Radien serta salinan akte tanah dari Kadastraal Yogyakarta yang disahkan pada tahun 1917,” imbuh Prihananto.

Dari 1.200 hektare tanah milik Mur Sudarinah ini, yang digunakan untuk pembangunan bandara seluas 650 hektare.”Dari luasan itu yang diklaim oleh Paku Alam sebesar 128 hektare. Sedangkan yang lain berstatus hak milik warga,” katanya.

Bila dokumen yang ditunjukkan oleh ahli waris dari Mur Sudarinah adalah sah, sesuai dengan gambaran rencana pembangunan bandara, seluruh lahan bandara berada di atas tanah yang dianggap milik Mur Sudarinah.

Menurut Prihananto, gugatan yang baru muncul pada saat ini karena surat akte tanah dan surat dari notaris itu baru ada pada tahun 2011 sesaat sebelum Mur Sudarinah meninggal dunia. Kemudian diserahkan kepada cucunya yakni Suwarsih dan Suwarti yang kemudian diserahkan kepada 8 ahli warisnya.

”Permasalahannya kan dokumen itu baru muncul pada tahun 2011 sehingga tanah itu sudah dianggap tanah negara karena merupakan tanah hak barat,” katanya.

Kini permasalahan tersebut telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Wates dan telah memasuki tahap sidang perdana. Dalam sidang perdana tersebut dihadiri oleh pihak penggugat diwakili kuasa hukum serta pihak tergugat yakni Paku Alaman dan Angkasa Pura I, serta kuasa hukum masing-masing pihak. Ketua Hakim, Mateus Sukisno Aji memutuskan memberikan waktu bagi seluruh pihak untuk melakukan mediasi selama 30 hari.

 

 

Berita Terkait :


HOT NEWS