Hukum & Kriminal
Selasa, 10 Januari 2017 - 06:49:55 | bambang-jati / Sorot Kulonprogo

Digugat Buyut Sri Sultan VII, Pihak Paku Alam: Silahkan !
Digugat Buyut Sri Sultan VII, Pihak Paku Alam: Silahkan !
Digugat Buyut Sri Sultan VII, Pihak Paku Alam: Silahkan !
Penghageng Kawedanan Keprajan Puro Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Suryo Adinegoro atau Bayudono.

Wates,(sorotkulonprogo.com)--Delapan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan Sri Susuhunan Pakubuwono X menggugat Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X dan Direksi PT Angkasa Pura I karena dianggap mengklaim tanah milik Mur Sidarinah yang merupakan leluhur dari penggugat.

Delapan penggugat atau prinsipal tersebut merupakan buyut dari Mur Sidarinah yang menjadi istri dari Sri Susuhunan Pakubuwono X yakni Suwarsi, Eko Wijanarko, Endah Prihatini, Hekso Leksmono, Nugroho Budiyanto, Rangga Eko S, Diah Putri A, dan Ida Ayuningtyas.

Kuasa hukum pihak Kadipaten Paku Alam, Herkus Wijayadi mengungkapkan bahwa setelah dilaksanakan sidang pertama Senin (09/01/2017) di Pengadilan Negeri Wates dengan Mateus Sukusno Aji sebagai hakim ketua serta Edy Sameaputty dan Yudith Wirawan sebagai hakim anggota, memutuskan untuk memberikan waktu mediasi selama 30 hari. Mediasi pertama belum mendapatkan hasil.

”Mediasi pertama belum mendapatkan hasil apa-apa karena ke delapan prinsipal tak bisa hadir. Sesuai dengan aturan kedelapan prinsipal harus hadir, apabila ingin mewakilkan harus melampirkan surat pernyataan dari prinsipal lain bahwa memang memberikan kuasa pada perwakilanya,” ujar Herkus Wijayadi ditemui usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Wates.

Ditambahkan oleh Herkus bahwa pihaknya akan tetap kekeuh mempertahankan tanah yang sekarang sedang menjadi sengketa. Dia memastikan bila pihak Paku Alam meyakini bahwa tanah tersebut memang dari dulu merupakan PA Ground.

Senada dengan Herkus, Penghageng Kawedanan Keprajan Puro Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Suryo Adinegoro atau Bayudono, menyampaikan bahwa selama sekian puluh tahun PA VII sudah membangun bermacam-macam wilayah namun tak pernah ada yang mempermasalahkan.

”Silahkan saja kalau mau menggugat, namun itu kesannya aneh karena sebelumnya tak pernah ada yang mengganggu. Apalagi kan itu ada sebelum Kulon Progo jadi satu dengan Adikarto,” katanya.

”Adikarto itu milik Kadipaten Paku Alam, sedangkan Kulon Progo pada waktu itu milik Kasultanan, sebelum digabung menjadi Kulon Progo. Jadi dari dulu status tanah sudah milik PA,” pungkas Bayudono.

Berita Terkait :


HOT NEWS